Derai-derai yang patah
Membungkam seribu enyah yang tak terbantah
Nyata kita dipertemukan, entah aku yang mengenalmu atau kau yang mengetahuiku.
Langit membumbung
Kapan kau kirimkan kabar?
Tak perlu berupa surat dengan jutaan kata menenangkan
Aku hanya ingin tau, bagaimana jalan di depan
Ketahuilah aku tak tau kau, pun sebaliknya
Namun aku mengenal dan mungkin bukan sebaliknya
Maaf aku hanya rindu,
Kemarin dan sekarang.
Sabtu, 08 Juli 2017
Jumat, 09 Juni 2017
Sebelum mau nulis ini mau minta maaf dulu kepada seluruh pihak kepada langit dan bumi kepada semua yang sudah menyayangi dan mendoakan yang baik bagi saya.
Kali ini akan menuliskan suatu pengakuan, yap pengakuan.
Saya gatau mungkin ini picik sekali tapi saya rasa saya perlu mencatatnya sebagai pengingat dan kompas saya di masa depan.
Satu hari.. lalu tiba-tiba ini sudah bulan ke 8 atau 9 mungkin, entahlah.
Baru ini merasa hambar, mengambang dan sadar bahwa segala yang dilakukan bukan tanpa perasaan.
Yang dilakukan memang memiliki tujuan tapi bukan untuk diri sendiri, jujur saya susah mengungkapkan tapi saya harus mengakui tujuan saya adalah selesai.
Ya, selesai dan penguat saya adalah doa dari segala makhluk yang baik kepada saya.
Pendorong saya adalah Allah, Tuhan Yang Maha Menyelamatkan dan Menyayangi saya.
Entah, baru kali ini menyelesaikan hal besar tapi hambar, kopong. Kalau tahu bulat tengahnya bolong dan isinya angin menurut saya itu lebih baik karena masih ada gurih-gurih nya meskipun bercampur angin, kalau saya?
Ibarat saya membuat cake tart yang saya hias sedemikian rupa mungki bagi orang lain sudah sangat baik ataupun jika kurang bisa ditambah cokelat, krim atau bahan-bahan lainnya tetapi bagi saya mau seperti apapun bentuknya mau ditambah bahan apapun lagi rasanya untuk jiwa saya kosong. Ya, kosong.
Saya akui.
Saya pun tidak tahu kalau diibaratkan sebuah peta harta karun sekarang saya ada posisi mana yang jelas saya tahu bahwa saya sedang memegang kunci untuk membuka harta karun itu.
Saya ingin tau sungguh-sungguh ingin tau, tapi saya pun tau belum waktunya bagi saya untuk tau.
Husnudzon saja bismillah.
Untuk semua makhluk Allah yang baik kepada saya, bismillah semoga Allah senantiasa melindungi dan menentramkan kalian dimanapun kapanpun.
Kali ini akan menuliskan suatu pengakuan, yap pengakuan.
Saya gatau mungkin ini picik sekali tapi saya rasa saya perlu mencatatnya sebagai pengingat dan kompas saya di masa depan.
Satu hari.. lalu tiba-tiba ini sudah bulan ke 8 atau 9 mungkin, entahlah.
Baru ini merasa hambar, mengambang dan sadar bahwa segala yang dilakukan bukan tanpa perasaan.
Yang dilakukan memang memiliki tujuan tapi bukan untuk diri sendiri, jujur saya susah mengungkapkan tapi saya harus mengakui tujuan saya adalah selesai.
Ya, selesai dan penguat saya adalah doa dari segala makhluk yang baik kepada saya.
Pendorong saya adalah Allah, Tuhan Yang Maha Menyelamatkan dan Menyayangi saya.
Entah, baru kali ini menyelesaikan hal besar tapi hambar, kopong. Kalau tahu bulat tengahnya bolong dan isinya angin menurut saya itu lebih baik karena masih ada gurih-gurih nya meskipun bercampur angin, kalau saya?
Ibarat saya membuat cake tart yang saya hias sedemikian rupa mungki bagi orang lain sudah sangat baik ataupun jika kurang bisa ditambah cokelat, krim atau bahan-bahan lainnya tetapi bagi saya mau seperti apapun bentuknya mau ditambah bahan apapun lagi rasanya untuk jiwa saya kosong. Ya, kosong.
Saya akui.
Saya pun tidak tahu kalau diibaratkan sebuah peta harta karun sekarang saya ada posisi mana yang jelas saya tahu bahwa saya sedang memegang kunci untuk membuka harta karun itu.
Saya ingin tau sungguh-sungguh ingin tau, tapi saya pun tau belum waktunya bagi saya untuk tau.
Husnudzon saja bismillah.
Untuk semua makhluk Allah yang baik kepada saya, bismillah semoga Allah senantiasa melindungi dan menentramkan kalian dimanapun kapanpun.
Minggu, 14 Mei 2017
Sampai kini
Bukan sepi karena kita tak bersama
Tak bisa jika harus begini, terbawa meracau saat aku terbenam
Jika satu adalah hari yang bisa ku maknai maka izinkan aku menyampaikan sebuah luka menganga yang lama aku obati sendiri
Kesempatan bagiku bagi kamu atau kita sekali saja
Jika ada satu waktu aku harus menghabisi maka relakan sampai aku terbang pada bahana yang menyegar
Kalut,
Maaf aku tak bisa membiarkan kamu turut menganga
Tapi jika ada satu kesempatan untukmu maka jangan berubah hanya biarkan aku pergi meraba dan menerka lajur yang membentang.
Bukan sepi karena kita tak bersama
Tak bisa jika harus begini, terbawa meracau saat aku terbenam
Jika satu adalah hari yang bisa ku maknai maka izinkan aku menyampaikan sebuah luka menganga yang lama aku obati sendiri
Kesempatan bagiku bagi kamu atau kita sekali saja
Jika ada satu waktu aku harus menghabisi maka relakan sampai aku terbang pada bahana yang menyegar
Kalut,
Maaf aku tak bisa membiarkan kamu turut menganga
Tapi jika ada satu kesempatan untukmu maka jangan berubah hanya biarkan aku pergi meraba dan menerka lajur yang membentang.
Kamis, 13 April 2017
Saya ingin dengar cerita kamu
Tentang apa saja yang sudah kamu rasakan hari ini, kemarin, atau besok yang belum terjadi.
Saya ingin dengar cerita tentang dokumen kantor yang memaksa kamu terjaga hingga tengah malam di kantor,
Tentang kopi di atas gunung yang kamu nikmati sedaat setelah jauh menempuh perjalanan
Tentang suasana danau yang baru saja kamu kunjungi
Tentang lagu favoritmu yang ternyata juga lagu favoritku
Tentang inginmu untuk menetap sejenak di atas bukit
Tentang semua dan apa saja yang ada dalam dirimu.
Hanya bercerita, bertukar pikiran tanpa perlu membawa perasaan :)
Tentang apa saja yang sudah kamu rasakan hari ini, kemarin, atau besok yang belum terjadi.
Saya ingin dengar cerita tentang dokumen kantor yang memaksa kamu terjaga hingga tengah malam di kantor,
Tentang kopi di atas gunung yang kamu nikmati sedaat setelah jauh menempuh perjalanan
Tentang suasana danau yang baru saja kamu kunjungi
Tentang lagu favoritmu yang ternyata juga lagu favoritku
Tentang inginmu untuk menetap sejenak di atas bukit
Tentang semua dan apa saja yang ada dalam dirimu.
Hanya bercerita, bertukar pikiran tanpa perlu membawa perasaan :)
Jumat, 07 April 2017
Kota Raga
Halo Raga, bagaimana kabar sekarang?
Sore ini merupakan beberapa hari setelah hari bahagiamu.
Entahlah, aku tidak bisa menahan lagi.
Sore ini bersama awan putih dan tempat favorit aku mengingat tentang kotamu.
Entah bagaimana caranya semesta bisa mengenalkan aku yang jauh disini, aku belum pernah menetap tapi rasanya semua tertinggal disana.
Berlebihan ya? Haha bolehlah kalau memang iya tapi memang begitu aku di waktu ini
Kemarin aku sempat terpikir untuk lupa, terlupa, dan melupakan tapi sifat hati terbolak-balik, bukan?
Bagaimana kotamu dan bagaimana kamu?
Mungkin sesekali nanti kita bisa bertemu? Atau boleh jika kamu berkenan bertamu :)
Sore ini merupakan beberapa hari setelah hari bahagiamu.
Entahlah, aku tidak bisa menahan lagi.
Sore ini bersama awan putih dan tempat favorit aku mengingat tentang kotamu.
Entah bagaimana caranya semesta bisa mengenalkan aku yang jauh disini, aku belum pernah menetap tapi rasanya semua tertinggal disana.
Berlebihan ya? Haha bolehlah kalau memang iya tapi memang begitu aku di waktu ini
Kemarin aku sempat terpikir untuk lupa, terlupa, dan melupakan tapi sifat hati terbolak-balik, bukan?
Bagaimana kotamu dan bagaimana kamu?
Mungkin sesekali nanti kita bisa bertemu? Atau boleh jika kamu berkenan bertamu :)
Langganan:
Postingan (Atom)