Sabtu, 23 Agustus 2014

carut marut kehidupan duniawi agaknya sering membuat kita lupa bahwa kita sebetulnya memiliki dunia yang lain
hari berlalu sedemikian panjang namun tak jua ku temukan akar panjang berlapis apa yang sesungguhnya terjadi
mungkin kita harus lebih bersabar menanti ?

tentu saja dengan untaian doa dan usaha

aku tahu kita tak lelah kita hanya sedikit khawatir, khawatir apa yang kita peras sekian lama menguap

aku, kamu, kita, dan mereka
hanyalah bagian kecil bahkan sangat kecil mengenai juntang jeluntang kefanaan ini

bersyukur ...
Tuhan Maha Baik melingkupiku dengan kalian

belajar dan berbagi ...
sementara baru itu yang kutemukan dari maksud Nya

maaf dan terimakasih
terlontar perlahan selalu dan seterusnya

maaf bukan karena kesalahan
terimakasih bukan karena pujian
kalian tentu mengerti jika tidak maka segera


-dari yang senantiasa berusaha mencoba

Rabu, 20 Agustus 2014

kadang tak ada yang mengerti mengapa kita perlu begini perlu begitu dan segala racau meracau yang lain
kadang tiada pula yang paham mengapa sesosok manusia harus memiliki rasa yang seharusnya tidak ia rasakan
sebagian beranggapan "Tuhan tidak adil" sebagian yang lain justru mengamini dengan khusnul yakin frasa semacam ini
andai mereka tahu bahwa tidak ada yang tidak terencana oleh Nya
hidupku yang dulu, hidupku yang sekarang, dan hidupku yang akan datang
aku tak pernah tahu sebelumnya
yang aku tahu aku hanya menjalankan apa yang memang seharusnya aku jalankan
yang aku tahu apa yang aku rasakan memiliki suatu sistem rencana yang akan membawaku pada sesuatu hal yang lain
seperti hari ini yang begitu memilukan
tidak bermaksud menyalahkan siapapun, aku hanya bimbang mengapa sebuah pernyataan sederhana tak kunjung ada ?
. . .
terkadang manusia tidak membutuhkan penjelasan atau alasan apa yang telah terjadi namun manusia hanya butuh pengakuan. ya hanya dengan mengakui benar atau salah itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya, bukan ?

hari ini . . .
aku membutuhkan lebih kehati-hatian dalam bepergian
aku membutuhkan rasa rela dan ikhlas daripada hari-hari yang telah lalu
aku merindukan sesosok yang mampu mengakui walau hanya sederhana
aku ingin mereka tau apa yang aku lakukan bukan hanya sekedar "atas nama" kebaikan

kelak ketika aku pergi kemanapun itu
sampaikan pada ibu dan juga ayahku bahwa aku mencintai mereka lebih dari yang mereka tahu
katakan bahwa ketika aku terpaksa bernada tinggi pada mereka adalah sesuatu hal yang paling menyakitkan untukku
ceritakan bahwa setiap saat mereka lah alasanku untuk hidup, mereka alasan untuk aku tetap kuat melangkahkan kaki dan menegakkan kepala
dan ketika aku harus berkata dengan nada ataupun kata-kata yang keras bukan berarti aku sudah tidak kuat dengan mereka, aku hanya ingin mereka menjadi orang tua yang baik untukku maupun anak-anak nya yang lain agar Allah memberkahi mereka.

Ya Allah mungkin hamba bukan anak yang baik namun jadikanlah kedua orang tua hamba sebagai suri tauladan bagi yang lainnya, penegak kebenaran agamaMu, serta jalan yang teramat baik bagi anak-anaknya.

Kamis, 14 Agustus 2014

Ibu, Anakmu Hanya Jatuh Cinta

pagi yang cukup dingin berselimutkan embun penghias dedaunan yang menjadikannya terlihat segar juga pagi yang cukup disayangkan Dru untuk meninggalkan tempat tidur hanya demi menempuh jarak 16 km dari tempat tinggalnya. andai Dru tidak mengingat bahwa pergi kuliah adalah pesan terakhir dari neneknya tercinta tentu ia tidak akan beranjak dari kasurnya yang hangat.
Ibu Dru telah menyiapkan sarapan lezat bagi anak semata wayangnya itu namun waktu Dru yang tinggal sedikit untuk menempuh perjalanan 16 km agaknya cukup merepotkan.
"terimakasih, Bu. ibu saja yang sarapan aku pasti ikut kenyang. Love you, Bu", begitu pamit Dru sambil mencium pipi Ibu nya.
Kampus masih sepi, Dru yang berpikir bahwa ia akan terlambat sekitar 5 menit nyatanya ia datang 10 menit lebih awal entah kecepatan seperti apa yang membawanya seperti itu.
tau begini kuteruskan kemesraanku dengan kasur, umpat Dru dalam hati.
Dru merupakan sosok mahasiswi muda yang terkenal ceria, ramah, aktif, sabar dan baik hati saking baik hatinya sampai-sampai ia selalu tidak keberatan bila ada orang yang meminta bantuannya sekalipun orang tersebut menyakitinya berulang-ulang.

jam kedua perkuliahan rupanya diundur setengah jam, hal yang cukup menyebalkan bagi Dru dan kawan-kawannya.
"mau ke kantin Dru ?"
"tidak, kalian pergilah ke kantin mungkin aku akan ke zona baca"
sesampainya di zona baca Dru segera menuju tempat duduk favoritnya, tempat yang selalu ia dan dirinya banggakan, letaknya ada di depan jendela pojok kanan dari pintu masuk, dari situ Dru selalu bisa merasakan sejuknya udara ketika hujan, dan pemandangan-pemandangan dari taman kampus yang hijau. Namun dari itu semua hanya satu hal yang selalu membuatnya merasa nyaman untuk duduk berlama-lama di tempat itu.

tidak seperti hari-hari biasanya Dru lebih sering terlihat tidak ceria meskipun ia telah berusaha untuk melemparkan senyum kepada siapapun lawan bicaranya. Dru juga lebih tidak banyak bicara akhir-akhir ini, wajahnya yang sering terlihat agak pucat membuat kawan-kawannya menyangka bahwa ia sedang sakit namun Dru selalu menolak mentah-mentah hal itu.
"aku tak apa, tenang saja" katanya dengan mengulum senyum dan hal itulah yang selalu ia lontarkan ketika ada yang menanyakan keadaannya.
di rumah sosok Dru menjadi semakin tidak karuan. Ibu yang mencium gelagat aneh dari satu-satu nya orang yang dimiliki nya sekarang tentu merasa khawatir.
"Dru, Ibu tau kamu sangat sulit untuk diajak makan tapi lihat tubuhmu semakin kurus Dru"
Dru yang mengetahui Ibu nya khawatir segera mencomot piring lantas mengambil nasi dan lauk pauk yang tersedia. Dru makan dengan mulut yang penuh. tak berselang lama setelah Dru menghabiskan makanannya yang hanya sebanyak tiga sendok Ibu melihatnya berlari kecil menuju kamarnya.

hari ini hari terakhir ujian kuliah, dan lusa adalah hari wisuda bagi satu angkatan atas Dru. Dru meskipun ia masih belum terlihat baik dari biasanya tetap mengiyakan ketika Wita temannya meminta nya mengantar ke bagian keuangan untuk menebus biaya proposal pelaksanaan carnaval universitas satu bulan lalu.
setelah mengantar Wita, Dru berjalan sendirian menuju tempat favoritnya. disana ia tak dapat lagi menahan air mata nya.

"Dru tak apa Bu, Ibu tak perlu khawatir", begitu yang ia katakan ketika ibu selalu bertanya perihal keadaannya.
"Dru, untuk kesekian kali nya ibu meminta ceritakan pada Ibu nak apa yang mengganjal pikiranmu selama ini ?"
Dru masih bergeming sambil tetap mengulum senyum, meskipun terlihat di matanya bahwa kaca-kaca itu tak lama akan pecah.
"apa ada yang menyakiti kamu, Dru ?", tanya Ibu sambil membelai rambut Dru yang panjang
Dru menggeleng dan tetap tersenyum.

"Ibu, sedalam apa Ibu mengenal Dru ?" ujar Dru perlahan

"lebih dari kamu mengenali dirimu, nak"

"Ibu, setiap manusia punya akal, hati, dan pikiran bukan ?"

"tentu saja nak"

"untuk apa Bu ?"

"itu adalah karunia Tuhan yang tak ternilai harganya, akal adalah pembeda antara kita dan makhluk Tuhan yang lainnya pertanda bahwa kita adalah makhluk terbaik apabila kita bisa menggunakannya yakni dengan mengetahui mana yang baik dan buruk"

"lalu hati ?"

"ia adalah tempatmu untuk merasakan, dari situ kamu tau apa yang terjadi padamu dan apa yang harus kamu lakukan"

"kalau pikiran ?"

"ia adalah penerjemah dari apa yang kamu rasakan, sehingga kamu tau suatu hal layak untuk dilakukan ?"

"bu . . ."

"ya Dru ?"
"Ibu ingat aku pernah bercerita tentang zona baca dan tempat favoritku di kampus ?"
"ya, tempatmu melihat pohon ek serta bunga-bunga berwarna yang di tanam di taman kampusmu ?"
"lalu ?"
"tempatmu menikmati udara sejuk dan percikan air ketika hujan ?"
"tempat itu... tempat itu... tempatku menikmati Hans, bu..."
"Hans ?"
"besok ia di wisuda"
"lalu ?"
"aku belum mengenalnya, aku belum menjabat erat tangannya, bahkan aku belum memberitahu nya apapun"
"memberitahu apa, Dru ?"
"Aku jatuh cinta padanya sejak lama, Bu"

***END***

Minggu, 10 Agustus 2014

waktu bergulir tanpa terasa, ribuan asa dan cita juga telah terlaksana bagi umat manusia. lantas, adakah kita bersyukur di dalamnya ? seharusnya, bahkan itu memang sebuah keharusan yang mutlak.

pahit

manis

segala yang kita rasakan adalah suatu yang memiliki alasan bukan ?
lalu "kapan aku tahu alasan itu ?"
bukankah kita tahu Allah memberikan dan segala sesuatu dengan sangat indah lebih dari yang kita pikirkan

dan apakah salah jika aku pun turut mensyukuri ini semua ? tidak sama sekali tidak

aku hanya hamba yang memiliki daya sesuai dengan yang dititahkan Tuhan nya

aku hanya seonggok daging bernama yang pasti lemah tanpa kuasa Nya

Allah . . .
Aku milik Nya, seutuh hidup dan mati

Allah terimakasih tanpa henti kulantunkan meski dengan sederhana apakah Kau mau menerimanya ?
Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu