sepanjang perjalanan pulang hanya gema suara radio yang menyelimuti sekat-sekat diantara mereka berdua. cal sama sekali tak berniat untuk bercakap-cakap, pram heran dengan kelakuan calya sepulang dari cafe itu namun menurutnya cal sedang kelelahan sehingga ia pun tak ingin mengganggu diam nya cal sore itu.
sampai di depan rumah cal ...
"terimakasih ya sudah menemani seharian penuh ini, kamu pasti lelah." kata pram sebelum cal membuka pintu
"iya sama-sama. bagaimana kamu tahu aku lelah ?"
"tentu saja, sejak kita pulang dari cafe kamu diam saja. ya sudah setelah ini langsung istirahat ya masih banyak yang harus dikerjakan besok. salam untuk mama papa"
cal hanya tersenyum hambar. lelah ? cal memang lelah tapi lelah yang hinggap di dirinya bukan karena seharian ini telah mengikuti dan menemani pram baginya mendampingi pram dalam berbagai kesempatan adalah hal yang sangat biasa bahkan jika ia tidak berhenti sekalipun pada setiap harinya. cal lelah karena ia terlalu mengetahui siapa sosok pram, cal lelah mengetahui pemilik mata cokelat kesayangannya itu belum bisa sepenuhnya memiliki perasaan yang sama dengannya. sejujurnya ia ingin pram tahu apa yang ia rasakan dan bagaimana ketakutannya namun ia tak pernah melakukan itu, ia takut segala nya akan berubah jauh lebih buruk.
ini sudah tahun kedua mereka bersama-sama pada akhirnya mereka memutuskan untuk bertunangan, tidak hanya itu kini mereka juga mengelola dan mengembangkan bisnis bersama-sama. pram dan calya berpartner sebagai owner dari sebuah cafe yang kini sudah memiliki dua cabang di daerah yang terpisah.
masih jam 6 pagi cafe pram dan calya masih sepi hanya ada empat pegawai yang sedang bersih-bersih dan menyiapkan segala yang dibutuhkan sebelum cafe dibuka pukul 7 tepat.
cal selalu datang setengah jam sebelum para pegawai datang, kini terlihat ia sedang mengecek berbagai surat dan laporan diatas meja kerjanya.
cafe baru dibuka sekitar 10 menit dan sudah ada beberapa pelanggan yang menunggu pesanannya diantarkan. seorang bapak sedang menyeruput kopi panasnya sambil membaca koran berbahasa inggris nampak nya ia seorang investor besar, adapun lelaki muda dengan polo shirt yang sedang mengutak-atik laptop dihadapnnya, juga seorang wanita muda dengan make up cukup mencolok untuk dihadirkan pada jam-jam sepagi ini. tak lupa musik-musik hits juga terlantun merdu menambah hangatnya suasana pagi ini.
waktu berlalu dan semakin banyak pelanggan yang datang memenuhi kursi-kursi kayu warna putih, cokelat, maroon, pun meja-meja yang tersedia. para pegawai juga semakin sibuk melayani pelanggan-pelanggan dengan berbagai permintaaan tersebut.
setelah mengecek beberapa surat dan laporan di atas meja kerjanya cal berjalan keluar dan duduk pada salah satu meja di depan meja kasir. cal sangat suka mengamati kesibukan pagi, baginya mengamati orang adalah sesuatu yang menyenangkan bahkan tak jarang ia menemukan hal-hal yang unik dan dapat dipelajari dalam setiap pengamatannya tersebut. pandangan mata cal menyapu ke seluruh sudut yang mampu dijangkaunya, hingga pada suatu titik pandangannya berhenti.
cal mengambil alih pesanan yang dibawa pegawainya dan mengantarkan ke si empunya.
"selamat pagi, silahkan pesanannya." ujar calya dengan ramah
sosok yang merasa dipanngil seketika menoleh.
"iya, terima ka.. Calya ???"
tak berselang lama keduanya telah berbaur dalam perbincangan khas wanita.
"jadiiii, ini cafe kamu dan pram ? wah selamat ya, kalian sungguh hebat bisa membangun cafe se asyik ini. teman-temanku banyak sekali yang sering kemari dan merekomendasikan untuk dikunjungi. tapi aku baru sempat kesini ya sekarang ini dan ga nyangka ketemu kamu..."
Cal hanya tersenyum mendengar celotehan Ren.