calya sangat paham siapa sosok yang ia cintai. bukan rahasia bahwa sosok pram yang telah memiliki jam terbang cukup tinggi di beragam organisasi membautnya mengenal banyak orang baru namun bukan itu yang dikhawatirkan oleh calya tentang pram namun rupanya pram belum bisa melupakan mantan kekasihnya 3 tahun yang lalu. di hadapan banyak orang pram terlihat biasa saja bahkan ketika satu waktu ia bertemu mantan kekasihnya tersebut namun cal tahu apa yang tersirat dalam dua bola mata cokelat kesayangannya itu. cal tidak pernah membahas perihal perasaan yang masih dimiliki pram pada mantan kekasihnya, ia selalu berusaha untuk mencitai dan menyayangi pram dengan sepenuh hatinya meski sejujurnya ia sangat sakit mengetahui hal itu tapi cal tidak peduli toh kini pram telah menjadi miliknya dan sudah banyak yang memberikan tittle pada mereka berdua sebagai pasangan favorit dalam setiap kesempatan.
suatu hari dalam suatu acara cal dan pram datang bersama. dalam acara tersebut pram diundang sebagai pembicara dan didaulat untuk memberikan kata sambutan. usai acara mereka memutuskan untuk mampir ke kedai kopi yang terletak persis di seberang gedung tempat acara berlangsung. calya memesan vanilla latte favoritnya dan pram kopi hitam kental dengan gula setengah sendok saja.
"pram...."
sebuah suara menyapa pram dari belakang.
"eh hai ren. sama siapa kemari ?" pram menoleh dan seketika gugup
perbincangan itu berlanjut sementara calya hanya tersenyum semanis mungkin menyambut tamu yang kini telah duduk di sisi kanan pram. sekali lagi calya melihat dengan jelas kilatan yang berpendar dalam mata cokelat kesayangannya itu. sesekali calya berusaha terlibat hangat dalam pembicaraan tak sengaja sore itu. calya menatap ke luar jendela, hujan.pantas dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar