ku letakkan gelas kaca itu di depan mejaku, aku muak mendengar cerita yang sama setiap hari, aku bosan dengan semua yang dilakukan. hingga akhirnya ku putuskan untuk menggebrak meja di depanku itu. bunyi gemerincing terdengar sangat keras, dia terhenyak, kaget, seketika dongeng yang ia lontarkan berhenti, aku tak peduli lalu pergi.
terdengar derap-derap langkah cepat di belakangku, aku berhenti, bergeming.
"maafkan aku" katanya
"untuk apa ?"
"aku membuatmu marah"
hanya diam yang kulontarkan disertai tatapan tajam yang mungkin cukup untuk membunuhnya.
"tolong jawab !"
aku masih menatapnya, ku balikkan badanku kemudian turun melalui tangga samping, dia mengejar
"aku tau aku salah, kumohon maafkan aku !"
aku masih berjalan dan kini meyusuri lorong-lorong kosong di sekolah tua ini. masih tidak peduli
aroma tanah basah sehabis hujan menyeruak ketika aku sampai di halaman samping. ia berhenti berbicara, kemudian menyentuh pundakku,dan membalik badanku.
"tolong jawab, jangan buat aku merasa bersalah"
"kamu tak perlu merasa bersalah karena kamu memang salah" jawabku datar
dia terdiam,mungkin kaget. kini kami diam dalam dingin. hanya semilir angin dan riuh ramai khas sekolah yang kini menemani kami.
"aku tahu", jawabnya pelan
aku terperanjat. rasa dingin yang menggeluti tubuh kami tak seperti rasa yang ada di dalam diriku, panas, mendidih hingga ke ubun-ubun bahkan lebih.
"KAMU TAHU KAMU SALAH ? KAMU TAHU ? DAN KAMU MENGAKUINYA", tanpa sadar aku berteriak.
mukanya mulai pucat, aku tak pernah peduli
"KAMU SALAH DAN KAMU TAHU. TAPI KENAPA DI DEPAN ORANG-ORANG KAMU TAK PERNAH MENGAKUINYA. jangan mentang-mentang kamu anak direktur kamu bisa memutihkan dosa-dosamu, Tuhan tak pernah tidur. kamu telah merampas hidupnya, cita-citanya, bahkan cintanya apa itu belum cukup dan sekarang kamu ambil nyawanya"
aku berlari, menagis pergi menerabas gerbang sekolah. kini aku di depannya, sahabatku, sambil ku peluk erat nisannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar