"heh, kebiasaan pukul-pukul. pagi juga bebeh", jawabku sambil tersenyum
ku lihat ia melempar tasanya ke bangku di sebelahku, cukup membuatku tersentak. tak lama ia keluar kelas. teman sebangkuku yang ini memang susah untuk di tebak akan apa yang dia mau, kadang lembut seperti malaikat, namun tak jarang bisa seperti macan yang siap menerkam singkat kata dia tipe maunusia yang moody kadang bisa cerewet dan tiba-tiba diam.
hari ini sekolah free, sungguh anugerah bagi kami siswa-siswi SMA 8, yepp dan sepertinya akan ada pulang yang dipercepat, entah kesambet apa para guru disini, pikirku dan teman-teman.
"hei lin, nanti ikut yuk", tanya rissa tiba-tiba
"mau kemana ?"
"mau liat dance competition, mau ikut ?"
"aduh maaf kaianya ga bisa, aku ada acara sendiri, kamu sama siapa ?"
"iyadeh gapapa, aku sama temenku kok"
perbincangan singkat itu berlalu seiring dibunyikannya bel yang ternyata benar jam pulang dipercepat 3jam dari biasanya.
***
hari ini aku berangkat agak siang, kulihat marissa telah duduk di bangkunya, pandangannya kosong namun seperti orang sedang berpikir, kuhampiri sambil kutaruh tas ku di bangku sebelahnya
"kamu kenapa riss ?", tanyaku pelan
dia hanya memandangku beberapa detik sebelum akhirnya menjawab
"aku ? gapapa kok lin, kenapa ? ada yang aneh ?", balasnya
"iyaa, seperti ada sesuatu, cerita aja, siapa tau aku bisa bantu"
dia menggeleng dan mengulang jawaban tidaknya, dia meyakinkan aku bahwa tidak ada apa-apa dengan dirinya, namun aku tau, aku bisa melihat ada sesuatu yang sedang menjadi beban pikirannya. akhirnya aku putuskan untuk tidak membujuknya lagi untuk bercerita. ya, marissa dia memang selalu terlihat semangat dan ceria, namun dia termasuk seseorang yang tertutup ia tak pernah mau membagi ceritanya kepada sembarang orang, dan aku cukup mengerti.
hmm sore yang indah, pikirku. pulang sekolah ini aku putuskan untuk berjalan jalan saja, aku tak langsung pulang. sampai di depan gerbang.
"linaaa...." kudengar seseorang memanggilku dari belakang, kuputar badanku, mencari-cari sosok yang berteriak memanggil namaku, terlihat rissa berlari, berusaha menyelip anak-anak yang lalu lalang.
"ada apa ris ?", tanyaku kulihat matanya merah seperti habis menangis.
"kamu mau kemana ? pulang ya ?"
"engga, aku mau jalan-jalan dulu mumpung besok libur, sorenya indah", jawabku sambil tersenyum
"boleh aku ikut ?", tanyanya pelan.
"tentu", aku mengiyakan sambil mengangguk
aku cukup senang karena aku tak harus menikmati sabtu sore yang indah ini sendirian, aku dan marissa berjalan meyusuri kota kecil yang hangat ini, kami berjalan melewati taman kota, menikmati kendaraan yang lalu lalang sore hari, kulihat marissa sudah tak menampakkan kesedihannya, jujur aku masih ingin tau apa yang terjadi dengannya hari ini, namun kutahan aku tak ingin merusak mood tertawanya di sore ini, aku tak mau membuatnya ingat kesedihannya.
limabelas menit berlalu, kita habiskan dengan candaan-candaan yang cukup membuat kita berdua tertawa.
tepat di depan gedung kesenian kami berhenti, karena tiba-tiba ada teman marissa yang mengahmpiri kami, namun secara tiba-tiba juga air muka marissa berubah tidak enak.
"lho ris, kamu kok disini ?", tanya teman marissa yang belakangan aku tau ia bernama meisi
"kenapa memangnya ?", jawab marissa sekenanya
aku rasa ada kejanggaln yang terjadi, batinku
"kamu kemarin kemana ? aku cari kok ga ada, kamu pulang duluan ya ?", tanya meisi pada rissa
"kamu sok peduli banget sih ?", kata marissa
kini aku hanya sebagai penonton dua orang ini
"kamu kok gini ris ?"
"kenapa salah ? aku kaia gini juga karena kalian kan ?", marissa mulai keras
"ris, maksudnya apa ? aku kan cuma tanya kenapa kamu kemarin ga ada waktu dance competition"
"aku ada ga ada pun ga akan ngaruh sama kalian kan, selama ini kalian ga pernah cari aku kan, kalian cari aku cuma kalo kalian butuh, tapi kenyataannya aku ga pernah terlihat di mata kalian, aku ga penting kalo kalian ga butuh, selama ini aku dah cukup sabar sama kalian, dan kemarin puncak kesabaranku", marissa membentak meisi
"ris, kamu kenapa ?", meisi bertanya terlihat ketakutan pada nada bicaranya.
"aku capek mes, aku capek buat tersisih, aku capek jadi sia-sia, aku capek diasingkan dari kalian, aku capek buat nerima apapun yang kalian lakuin ke aku ga di sekolah, ga di komunitas semuanya sama. kamu tau kemarin kenapa aku mutusin buat pulang, itu karena aku ga dianggep sama kalian, aku disana cuma diem, ngeliatin kalian lalu lalang, plonga-plongo ga ada kerjaan, masih mending kalian bisa saling bercengkrama satu sama lain. aku ? aku coba deketin anak-anak tapi apa mes ? mereka cuma ngelirik aku dan pergi. aku sapa kalian satu-satu, kalian bales sapaan ku ? engga mes, engga. semua sibuk sama diri sendiri tapi kalian ga saling melupakan, kalian hanya lupa aku, bahkan kalian mungkin ga peduli adanya aku, sampe aku pikir, apakah aku ini menjijikkan buat kalian ? apa aku ini kasih kesialan buat kalian ? haa ? aku nangis apa kalian ada yang tau ? engga kan ?????", amarah marissa sudah cukup di titik tertinggi, matanya mulai menunjukkan bahwa akan ada air yang mengalir, namun tertahan. sedangkan meisi hanya diam, sepertinya ia tak tau harus berkata apa mungkin ia tau percuma melawan orang yang sedang emosi, namun terlihat pada air mukanya bahwa ia merasa bersalah.
"kita ga au riss, kita ga bermaksud kaia gitu, kita emang sibuk sendiri-sendiri tapi ...."
belum sempat meisi menyelesaikan penjelasannya,
"terserah !", marissa memotongnya sembari menarik tanganku dan pergi menahan sedih dan amarahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar