Sabtu, 13 Agustus 2016

kepada senja nanti saat aku tidak dapat lagi meriuh
ketika aku sudah akan lebih dari mengerti mengapa kalian memilih untuk tidak peduli
kalian boleh tanyakan mengapa aku pergi
bukan untuk hari ini aku akan ada
tapi untuk nanti ketika kita sudah tak bersua

boleh kalian lemparkan kaca kepada puing-puing asa yang aku punya
silahkan...
boleh pula kalian cabik garis-garis percaya aku kuatkan
kadang, aku lupa bahwa kita sedang sama-sama belajar
atau mungkin aku belajar sendirian?

sautan sesak biar saat ini giliranku hingga nanti anak panah mengarah kepada kamu, kepada kamu, dan kepada kamu
kalau ini memang cara aku harus mampu memahamkan
maka nanti ada kala kalian perlu mampu menerima

...
saya rela,
pun saya doakan
yang paling baik untuk kita semua.

Jumat, 12 Agustus 2016

Kehadiran...

Tidaklah suatu omong kosong

Berbahagialah bagi mereka yang mampu menghadapi segala nya sendirian
Ketenangan, bagi mereka yang tidak akan atau terpikir mengandalkan siapapun
Terpujilah, ia yang mampu mengusir sedihnya menekan marahnya dan menggenggam bahagianya sendirian
Tanpa merepotkan melukai dan mengiba pada sesiapa saja.

Senin, 08 Agustus 2016

I enjoying my sometimes

Sometimes to feel happy and smile when I see those fade
Sometimes when my favourite blogger post something weird and curious
Sometimes when I have to feel sad remember the glass-break
Sometimes when I wanna look pretty in my own way

Those sometimes...

Sometimes,
That I'll always be miss

Minggu, 12 Juni 2016

Pernah suka sama sesuatu?
Sesuatu yang belum pernah kamu temui belum pernah kamu sentuh tapi beberapa kali kamu kangen, beberapa kali juga kamu kesal karena ada yang lain menyentuhnya.

Ini bukan tentang seseorang atau bahkan benda yang bisa jadi status kepemilikannya jelas.

Ini tentang sesuatu yang tidak bisa disentuh
Tentang sesuatu yang tidak dapat dibawa kemanapun kita mau tapi harus kita yang datang.

Disini "kalau saja" tidaklah berlaku,

Nanti

Perlahan tapi pasti

Bismillahirrahmannirrahim

Aku datang

Aku hampiri.

Senin, 23 Mei 2016

Danisa

Pagi yang terang untuk mencambuk kenang malam yang panjang
kaki-kaki kecil melangkah, ada pula yang mengayuh tanpa peluh dengan seragam merah putih berbalut riuh tawa.
Embun pagi masih asing dengan polusi kota ini, memilih pergi dengan lekas tanpa mengizinkan matahari mengantarnya, hanya dahan dan ranting-ranting kecil yang ada di dekat tanah yang tau kemana ia menjejakkan airnya.
Kali ini bukan tentang mereka yang tidak peduli, sudahlah itu hak mereka.
Ada hal yang lebih penting dari itu, tentu saja menari dengan bisu dan tenggelam dalam pendiaman seribu waktu.
Danisa akan datang. Sesegera yang ia bisa.
Ia akan datang bersama dengan jiwa nya yang baru, walau tidak lepas dari buku dongeng kado dari ibu sebelas tahun yang lalu.
Danisa akan datang. Bersama rambut hitamnya yang tidak absen dikepang satu.
Ia akan datang sambil berkacak pinggang dan tawa lebar tanpa pagar seolah segalanya adalah hari baru tanpa ruang-ruang penuh sesak itu.
Danisa tidak ingin dijemput. Ia bisa sendiri katanya.
Hah dasar keras kepala! Padahal Pak Darman sudah siap sedia dengan sedan tahun delapan puluhan kebanggaannya.
Danisa ingin datang dan pipit-pipit kecil sudah siap menyambut langkahnya yang lebar dan cepat itu.
Agaknya pagi sudah beresonansi menyiapkan kedatangannya.
Danisa datang asal dengan syarat yang ia paksa untuk dilaksanakan oleh semua orang, tidak ada kopi pahit yang tersesap atau nyala rokok pada asbak diatas meja, hanya boleh permen-permen manis berbungkus merah muda kesukaannya.
Tepat pukul empat sore, kereta di stasiun kota sudah sampai sekitar lima belas menit yang lalu.
Baiklah, Danisa! Suara motor mulai berderu.
Sudah lima hari...
Kopi pahit masih mengepul dengan eloknya
Asap rokok masih menyala dengan khidmatnya
dan
Danisa,
hei Danisa,
Permen merah mudamu sudah terbuang semuanya,
Danisa,
hei Danisa,
lalu
kemana kamu berada?