Pernah suka sama sesuatu?
Sesuatu yang belum pernah kamu temui belum pernah kamu sentuh tapi beberapa kali kamu kangen, beberapa kali juga kamu kesal karena ada yang lain menyentuhnya.
Ini bukan tentang seseorang atau bahkan benda yang bisa jadi status kepemilikannya jelas.
Ini tentang sesuatu yang tidak bisa disentuh
Tentang sesuatu yang tidak dapat dibawa kemanapun kita mau tapi harus kita yang datang.
Disini "kalau saja" tidaklah berlaku,
Nanti
Perlahan tapi pasti
Bismillahirrahmannirrahim
Aku datang
Aku hampiri.
Minggu, 12 Juni 2016
Senin, 23 Mei 2016
Danisa
Pagi yang terang untuk mencambuk kenang malam yang panjang
kaki-kaki kecil melangkah, ada pula yang mengayuh tanpa peluh dengan seragam merah putih berbalut riuh tawa.
Embun pagi masih asing dengan polusi kota ini, memilih pergi dengan lekas tanpa mengizinkan matahari mengantarnya, hanya dahan dan ranting-ranting kecil yang ada di dekat tanah yang tau kemana ia menjejakkan airnya.
Kali ini bukan tentang mereka yang tidak peduli, sudahlah itu hak mereka.
Ada hal yang lebih penting dari itu, tentu saja menari dengan bisu dan tenggelam dalam pendiaman seribu waktu.
Danisa akan datang. Sesegera yang ia bisa.
Ia akan datang bersama dengan jiwa nya yang baru, walau tidak lepas dari buku dongeng kado dari ibu sebelas tahun yang lalu.
Danisa akan datang. Bersama rambut hitamnya yang tidak absen dikepang satu.
Ia akan datang sambil berkacak pinggang dan tawa lebar tanpa pagar seolah segalanya adalah hari baru tanpa ruang-ruang penuh sesak itu.
Danisa tidak ingin dijemput. Ia bisa sendiri katanya.
Hah dasar keras kepala! Padahal Pak Darman sudah siap sedia dengan sedan tahun delapan puluhan kebanggaannya.
Danisa ingin datang dan pipit-pipit kecil sudah siap menyambut langkahnya yang lebar dan cepat itu.
Agaknya pagi sudah beresonansi menyiapkan kedatangannya.
Danisa datang asal dengan syarat yang ia paksa untuk dilaksanakan oleh semua orang, tidak ada kopi pahit yang tersesap atau nyala rokok pada asbak diatas meja, hanya boleh permen-permen manis berbungkus merah muda kesukaannya.
Tepat pukul empat sore, kereta di stasiun kota sudah sampai sekitar lima belas menit yang lalu.
Baiklah, Danisa! Suara motor mulai berderu.
Sudah lima hari...
Kopi pahit masih mengepul dengan eloknya
Asap rokok masih menyala dengan khidmatnya
dan
Danisa,
hei Danisa,
Permen merah mudamu sudah terbuang semuanya,
Danisa,
hei Danisa,
lalu
kemana kamu berada?
melihat segala hal dengan lebih dekat
hal yang selalu aku rindu ketika aku merasa terlalu jauh
di dalam jingga dan malam yang menyeruak, tidak pernah berhenti berpikir dan menafsir bahwa hidup adalah perkara perbuatan untuk suatu perlakuan..
sayang, tidak semua berpikiran sama
aku sedang tidak ingin mengingat segala yang menuduhku salah atau menilaiku sangat salah
aku ingin pantai, yang berombak dingin dan matahari yang menyambut hangat
sambil berjalan menyusuri pesisir dengan memuja nama Nya yang luar biasa kuasa
lalu bertemu dengan sekelompok anak-anak lelaki yang memperebutkan bola sambil tertawa
kemudian menyingkapkan remah-remah pasir yang menempel
sesekali berhenti menghirup udara, menyentuh air, dan diterjang sedikit ombak
tidak ada kata-kata teoritis,
tidak ada keluh berselimut peluh,
tidak ada batu diantara hati,
dan menutup rapat pintu untuk munafik
hanya jujur...
kepada Nya, kepada udara Nya, kepada air dan ombak Nya
dan menuai remahan pasir sambil memegang ranting tanpa pemilik untuk menuliskan kata yang akan terhempas buih.
hal yang selalu aku rindu ketika aku merasa terlalu jauh
di dalam jingga dan malam yang menyeruak, tidak pernah berhenti berpikir dan menafsir bahwa hidup adalah perkara perbuatan untuk suatu perlakuan..
sayang, tidak semua berpikiran sama
aku sedang tidak ingin mengingat segala yang menuduhku salah atau menilaiku sangat salah
aku ingin pantai, yang berombak dingin dan matahari yang menyambut hangat
sambil berjalan menyusuri pesisir dengan memuja nama Nya yang luar biasa kuasa
lalu bertemu dengan sekelompok anak-anak lelaki yang memperebutkan bola sambil tertawa
kemudian menyingkapkan remah-remah pasir yang menempel
sesekali berhenti menghirup udara, menyentuh air, dan diterjang sedikit ombak
tidak ada kata-kata teoritis,
tidak ada keluh berselimut peluh,
tidak ada batu diantara hati,
dan menutup rapat pintu untuk munafik
hanya jujur...
kepada Nya, kepada udara Nya, kepada air dan ombak Nya
dan menuai remahan pasir sambil memegang ranting tanpa pemilik untuk menuliskan kata yang akan terhempas buih.
Rabu, 20 April 2016
asa yang baru, harapan yang sangat baru
tidak lagi meniti hal lama yang selalu membawa pergi melayang sejenak lepas kendali
sebuah warna biru langit secara perlahan mencerahkan dipadu mentari
langitmu dan langitku yang berbeda kini akan semakin berbeda dengan segala penerimaan dariku
iya,
aku tau seharusnya sudah sejak saat itu aku tidak mengaduh
aku sudah tau apa yang harus aku langkahkan
mengayunkan kaki pada sepetak lautan pasir putih pantai di tepi fajar yang membahagia
itulah kenapa seseruput senyum menjuntai indah mengelilingi wajah
indahkan segala gundah menjadi arti yang tak menjadi
halo, apa kabar? nanti kita bertemu tapi jangan lama-lama ya...
cukup membicarakan tentang yang tak pernah kita bicarakan
"damai"
yaaaaaaa :)
sedetik dua detik tiga atau empat atau mungkin lima waaaah?
nyamankan saja.
tidak lagi meniti hal lama yang selalu membawa pergi melayang sejenak lepas kendali
sebuah warna biru langit secara perlahan mencerahkan dipadu mentari
langitmu dan langitku yang berbeda kini akan semakin berbeda dengan segala penerimaan dariku
iya,
aku tau seharusnya sudah sejak saat itu aku tidak mengaduh
aku sudah tau apa yang harus aku langkahkan
mengayunkan kaki pada sepetak lautan pasir putih pantai di tepi fajar yang membahagia
itulah kenapa seseruput senyum menjuntai indah mengelilingi wajah
indahkan segala gundah menjadi arti yang tak menjadi
halo, apa kabar? nanti kita bertemu tapi jangan lama-lama ya...
cukup membicarakan tentang yang tak pernah kita bicarakan
"damai"
yaaaaaaa :)
sedetik dua detik tiga atau empat atau mungkin lima waaaah?
nyamankan saja.
Rabu, 16 Maret 2016
Entah tahun ketiga masih saja begini seperti ini, sempat lupa sempat tidak mau tau pada 10 bulan terakhir dan entah menganggap semua menjadi salah seperti sekarang.
tidak mau menyalahkan siapa pun apapun, sejujurnya
Tapi apalah daya akal dan logika yang tak bertaut pada hati?
Tidak menyerah untuk melupa, tetapi sedikit lara untuk mengingatnya lagi...
pada saatnya nanti tunggu aku, rela
tidak mau menyalahkan siapa pun apapun, sejujurnya
Tapi apalah daya akal dan logika yang tak bertaut pada hati?
Tidak menyerah untuk melupa, tetapi sedikit lara untuk mengingatnya lagi...
pada saatnya nanti tunggu aku, rela
Langganan:
Postingan (Atom)