kaki-kaki kecil melangkah, ada pula yang mengayuh tanpa peluh dengan seragam merah putih berbalut riuh tawa.
Embun pagi masih asing dengan polusi kota ini, memilih pergi dengan lekas tanpa mengizinkan matahari mengantarnya, hanya dahan dan ranting-ranting kecil yang ada di dekat tanah yang tau kemana ia menjejakkan airnya.
Kali ini bukan tentang mereka yang tidak peduli, sudahlah itu hak mereka.
Ada hal yang lebih penting dari itu, tentu saja menari dengan bisu dan tenggelam dalam pendiaman seribu waktu.
Danisa akan datang. Sesegera yang ia bisa.
Ia akan datang bersama dengan jiwa nya yang baru, walau tidak lepas dari buku dongeng kado dari ibu sebelas tahun yang lalu.
Danisa akan datang. Bersama rambut hitamnya yang tidak absen dikepang satu.
Ia akan datang sambil berkacak pinggang dan tawa lebar tanpa pagar seolah segalanya adalah hari baru tanpa ruang-ruang penuh sesak itu.
Danisa tidak ingin dijemput. Ia bisa sendiri katanya.
Hah dasar keras kepala! Padahal Pak Darman sudah siap sedia dengan sedan tahun delapan puluhan kebanggaannya.
Danisa ingin datang dan pipit-pipit kecil sudah siap menyambut langkahnya yang lebar dan cepat itu.
Agaknya pagi sudah beresonansi menyiapkan kedatangannya.
Danisa datang asal dengan syarat yang ia paksa untuk dilaksanakan oleh semua orang, tidak ada kopi pahit yang tersesap atau nyala rokok pada asbak diatas meja, hanya boleh permen-permen manis berbungkus merah muda kesukaannya.
Tepat pukul empat sore, kereta di stasiun kota sudah sampai sekitar lima belas menit yang lalu.
Baiklah, Danisa! Suara motor mulai berderu.
Sudah lima hari...
Kopi pahit masih mengepul dengan eloknya
Asap rokok masih menyala dengan khidmatnya
dan
Danisa,
hei Danisa,
Permen merah mudamu sudah terbuang semuanya,
Danisa,
hei Danisa,
lalu
kemana kamu berada?