dear mei,
"hai mei, apa kabar ? aku harap kamu baik ya :) jangan seperti aku. maaf baru sempat membalas suratmu, akhir-akhir ini aku cukup sibuk dan lelah, boleh aku cerita denganmu ? jujur saja aku sangat merindukan saat-saat kita bercerita dan bertukar pikiran.
mei, sebelumnya bolehkah aku bertanya ? apakah berharap itu salah ? apakah berharap itu dosa dan sangat tidak pantas untuk dilakukan ? bisakah kau beri aku jawaban beserta alasannya ?
mei, aku ingat kata-katamu kita itu harus punya harapan untuk hidup, tapi bagaimana jika harapan itu harapan kosong terlebih harapan itu ialah harapan yang memang kita harapkan dari orang lain, emmmm maksudku seseorang. jujur mei, aku telah lelah untuk berharap, aku lelah dengan semua apa yang aku inginkan, setiap aku berharap maka setiap pula itulah aku jatuh, kau tau mei, itu sangat menyakitkan.
mei, apakah aku masih boleh berharap ? aku berharap suatu hari nanti tak ada lagi harapan kosong, untuk dunia, aku berharap semua kesemuan musnah, dan aku sangat berharap apa yang aku,kamu,kita,dan dunia harapkan dapat terwujud.
mei, mungkin hanya ini yang dapat aku bagi untukmu saat ini, maaf bila aku terlalu banyak merepotkanmu, aku cerita sangat tidak penting, namun inilah yang aku rasakan mei. bila senggang, bolehlah kau balas suratku yang tidak penting ini, sekali lagi aku mohon maaf mei, i miss you"
tertanda : nona me