Selasa, 04 Agustus 2020

ketika ini diketik yang terlintas adalah sekitar lima, enam, tujuh, dan delapan tahun lalu saat semua nampak biasa saja, bertumbuh sewajarnya, menyapa selayaknya, yang tidak pernah tersangka bahwa lima, enam, tujuh, delapan tahun kemudian adalah seperti diri masing-masing saat ini.
boleh saja apabila kamu katakan bahwa aku masih tertinggal di tahun-tahun itu. boleh pula kamu bilang aku tertinggal. apa saja tapi bagiku aku menetap meski tetap bergerak, aku bergerak meski menetap.

masih dengan mimpi yang sama

masih dengan harapan yang sama

dengan melalui proses dan relalitas tanpa duga

baiklah, sekian terima kasih aja takut ngetik makin mbeleber.

Selasa, 24 April 2018

Suatu hari nanti
Entah senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu ataupun minggu
Aku akan datang
Membawa peti harta karun yang dulu kau bilang
Berbahagialah
Karena tidak ada alasan untuk gelisah

Jangan khawatir tidak akan ada lagi getir
Lalu tertawalah bersamaku merayakan perayaan yang patut dirasakan.

Senin, 16 April 2018

"Berhentilah berlari, kau butuh rebah sebagai penawar lelah
Berdiamlah sejenak, beri jeda untuk pijak
Tertawalah sambil kubuatkan teh dengan gula setengah.
Atau kau juga mau kue kukus yang ku racik khusus?

Baiklah,
Sekarang bangunlah
Ku bawakan sekantung udara segar kalau kalau kau tersengal
Pagi akan menghampiri
Siang akan menerjang
Senja akan menyeruak dengan keindahan
Dan malam, meski kelam jangan lupa kau isi dengan doa supaya tetap terang.

Jumat, 13 Oktober 2017

6.30

Jalan rapat Jakarta yang mampat
Tiba waktu untuk kau kembali dari rutinitas yang semu
"Jangan lupa shalat maghrib dulu", pesanku.
Entah terdengar atau tidak.

Tujuh empat lima,
Masih dengan roda-roda berirama
Ponsel pintar menjemukan itu cukup membantu menerabas sunyi dalam dingin mobil berwarna pasi

Inilah saatku mengurai "semoga kau berkirim kabar"
Satu, tiga, dan tiba menit kedua
Ah
Ya, kamu hadir dalam garis waktuku

"Aku mau pergi keluar negeri", katamu
"Dengan aku kan?", kau diam.
Pijar lampu-lampu jalanan masih kelabu
Aku menanti jawaban itu

Pukul sepuluh
Tiba kau dalam selimut maroon kesayangan ibu
Baiklah, aku tanyakan pada Tuhan pertanyaanku.

Kamis, 05 Oktober 2017

Pendar jingga yang tiba berbalik
Kembali
Menyadap pikir yang enggan minggir
Berdayu tiap meski terang biru, menyatru anak-anak air yang meruah bisu
Sajakku kali ini bukan pada kamu kembali
Hanya mencobakan angin kemarau yang mengeringkan peka
Bila nanti aku masih disini ingat-ingatlah bila aku berlari
Sayapku patah beribu masa, tapi aku punya kaki untuk banyak asa.
Aku berhenti, sudah ku jerang saja kala ini.