"Berhentilah berlari, kau butuh rebah sebagai penawar lelah
Berdiamlah sejenak, beri jeda untuk pijak
Tertawalah sambil kubuatkan teh dengan gula setengah.
Atau kau juga mau kue kukus yang ku racik khusus?
Baiklah,
Sekarang bangunlah
Ku bawakan sekantung udara segar kalau kalau kau tersengal
Pagi akan menghampiri
Siang akan menerjang
Senja akan menyeruak dengan keindahan
Dan malam, meski kelam jangan lupa kau isi dengan doa supaya tetap terang.
Senin, 16 April 2018
Jumat, 13 Oktober 2017
6.30
Jalan rapat Jakarta yang mampat
Tiba waktu untuk kau kembali dari rutinitas yang semu
"Jangan lupa shalat maghrib dulu", pesanku.
Entah terdengar atau tidak.
Tujuh empat lima,
Masih dengan roda-roda berirama
Ponsel pintar menjemukan itu cukup membantu menerabas sunyi dalam dingin mobil berwarna pasi
Inilah saatku mengurai "semoga kau berkirim kabar"
Satu, tiga, dan tiba menit kedua
Ah
Ya, kamu hadir dalam garis waktuku
"Aku mau pergi keluar negeri", katamu
"Dengan aku kan?", kau diam.
Pijar lampu-lampu jalanan masih kelabu
Aku menanti jawaban itu
Pukul sepuluh
Tiba kau dalam selimut maroon kesayangan ibu
Baiklah, aku tanyakan pada Tuhan pertanyaanku.
Tiba waktu untuk kau kembali dari rutinitas yang semu
"Jangan lupa shalat maghrib dulu", pesanku.
Entah terdengar atau tidak.
Tujuh empat lima,
Masih dengan roda-roda berirama
Ponsel pintar menjemukan itu cukup membantu menerabas sunyi dalam dingin mobil berwarna pasi
Inilah saatku mengurai "semoga kau berkirim kabar"
Satu, tiga, dan tiba menit kedua
Ah
Ya, kamu hadir dalam garis waktuku
"Aku mau pergi keluar negeri", katamu
"Dengan aku kan?", kau diam.
Pijar lampu-lampu jalanan masih kelabu
Aku menanti jawaban itu
Pukul sepuluh
Tiba kau dalam selimut maroon kesayangan ibu
Baiklah, aku tanyakan pada Tuhan pertanyaanku.
Kamis, 05 Oktober 2017
Pendar jingga yang tiba berbalik
Kembali
Menyadap pikir yang enggan minggir
Berdayu tiap meski terang biru, menyatru anak-anak air yang meruah bisu
Sajakku kali ini bukan pada kamu kembali
Hanya mencobakan angin kemarau yang mengeringkan peka
Bila nanti aku masih disini ingat-ingatlah bila aku berlari
Sayapku patah beribu masa, tapi aku punya kaki untuk banyak asa.
Aku berhenti, sudah ku jerang saja kala ini.
Kembali
Menyadap pikir yang enggan minggir
Berdayu tiap meski terang biru, menyatru anak-anak air yang meruah bisu
Sajakku kali ini bukan pada kamu kembali
Hanya mencobakan angin kemarau yang mengeringkan peka
Bila nanti aku masih disini ingat-ingatlah bila aku berlari
Sayapku patah beribu masa, tapi aku punya kaki untuk banyak asa.
Aku berhenti, sudah ku jerang saja kala ini.
Rabu, 13 September 2017
Persimpangan
Story...
Untuk kesekian waktu aku termangu
Membisu pada semu yang menjangkar rasa yang mekar.
Hanyut, mengapung, berserah pada arah yang terkadang membuat mata merah.
Lagi,
Berada di kota asing, persimpangan bising, sampai otak rasanya miring.
Aku menunggu, seorang menjemput dengan tawa nya tapi...
Aku sedang di kota asing, persimpangan bising, dan udara yang hanya bisa kumantrakan doa supaya tetap ku bernapas.
Empat,
Lama kala yang tak sengaja dibuatkan atau dibutakan?
Kamu dimana?
Sekarang aku takut, hatiku menciut.
Aku rindu bukan ingin bertemu, aku hanya ingin tahu, tentang liku dan lakumu.
Untuk kesekian waktu aku termangu
Membisu pada semu yang menjangkar rasa yang mekar.
Hanyut, mengapung, berserah pada arah yang terkadang membuat mata merah.
Lagi,
Berada di kota asing, persimpangan bising, sampai otak rasanya miring.
Aku menunggu, seorang menjemput dengan tawa nya tapi...
Aku sedang di kota asing, persimpangan bising, dan udara yang hanya bisa kumantrakan doa supaya tetap ku bernapas.
Empat,
Lama kala yang tak sengaja dibuatkan atau dibutakan?
Kamu dimana?
Sekarang aku takut, hatiku menciut.
Aku rindu bukan ingin bertemu, aku hanya ingin tahu, tentang liku dan lakumu.
Senin, 28 Agustus 2017
Langganan:
Postingan (Atom)