Jumat, 13 Oktober 2017

6.30

Jalan rapat Jakarta yang mampat
Tiba waktu untuk kau kembali dari rutinitas yang semu
"Jangan lupa shalat maghrib dulu", pesanku.
Entah terdengar atau tidak.

Tujuh empat lima,
Masih dengan roda-roda berirama
Ponsel pintar menjemukan itu cukup membantu menerabas sunyi dalam dingin mobil berwarna pasi

Inilah saatku mengurai "semoga kau berkirim kabar"
Satu, tiga, dan tiba menit kedua
Ah
Ya, kamu hadir dalam garis waktuku

"Aku mau pergi keluar negeri", katamu
"Dengan aku kan?", kau diam.
Pijar lampu-lampu jalanan masih kelabu
Aku menanti jawaban itu

Pukul sepuluh
Tiba kau dalam selimut maroon kesayangan ibu
Baiklah, aku tanyakan pada Tuhan pertanyaanku.

Kamis, 05 Oktober 2017

Pendar jingga yang tiba berbalik
Kembali
Menyadap pikir yang enggan minggir
Berdayu tiap meski terang biru, menyatru anak-anak air yang meruah bisu
Sajakku kali ini bukan pada kamu kembali
Hanya mencobakan angin kemarau yang mengeringkan peka
Bila nanti aku masih disini ingat-ingatlah bila aku berlari
Sayapku patah beribu masa, tapi aku punya kaki untuk banyak asa.
Aku berhenti, sudah ku jerang saja kala ini.

Rabu, 13 September 2017

Persimpangan

Story...

Untuk kesekian waktu aku termangu
Membisu pada semu yang menjangkar rasa yang mekar.
Hanyut, mengapung, berserah pada arah yang terkadang membuat mata merah.

Lagi,
Berada di kota asing, persimpangan bising, sampai otak rasanya miring.
Aku menunggu, seorang menjemput dengan tawa nya tapi...
Aku sedang di kota asing, persimpangan bising, dan udara yang hanya bisa kumantrakan doa supaya tetap ku bernapas.

Empat,
Lama kala yang tak sengaja dibuatkan atau dibutakan?

Kamu dimana?
Sekarang aku takut, hatiku menciut.
Aku rindu bukan ingin bertemu, aku hanya ingin tahu, tentang liku dan lakumu.


Senin, 28 Agustus 2017

Bila nanti kamu kembali...
Entah bagaimana bisa, jika ketulusan adalah impian maka kamu pernah memilikinya
Satu waktu kamu menyeru mendobrak pintu tanpa memaksaku untuk mau
Bagimana jika nanti kamu kembali?
Tidak tahu, aku hanya ingin berdiri di ambang pintu sama seperti waktu itu atau waktu ini.

Sabtu, 08 Juli 2017

Derai-derai yang patah
Membungkam seribu enyah yang tak terbantah
Nyata kita dipertemukan, entah aku yang mengenalmu atau kau yang mengetahuiku.
Langit membumbung
Kapan kau kirimkan kabar?
Tak perlu berupa surat dengan jutaan kata menenangkan
Aku hanya ingin tau, bagaimana jalan di depan
Ketahuilah aku tak tau kau, pun sebaliknya
Namun aku mengenal dan mungkin bukan sebaliknya
Maaf aku hanya rindu,
Kemarin dan sekarang.