Rabu, 01 Oktober 2014

selamat siang . . .
mari bersyukur terlebih dahulu untuk yang kemarin, hari ini, dan esok hari
terimakasih pada segala proses yang telah menjadikan kami khusunya saya seperti ini
tentu sejauh apapun itu saya akan selalu ingat, mencoba mengingat, dan belajar, dan mencoba belajar

sungguh telah menjadi hal yang biasa
yang saya selalu percaya adalah "after a huricane comes a rainbow"
karena segalanya itu berbutar karena segalanya itu seimbang
dan akan selalu datang hal yang lebih baik dari sebuah kepergian

sebenarnya mungkin masih terlalu cepat bila membicarakan akhir
namun kita tak memungkiri hal itu, bukan ?
sebenarnya saya juga tidak pernah ingin mengingatnya
sebenarnya karena saya tahu akan seperti apa saya nantinya
namun kita tak ada yang bisa mengingkari bahwa terkadang waktu bergulir terasa cepat
saya bisa apa ?
saya harus bagaimana ?
sedang segala hal-hal baru ini juga masih belum terpecahkan

saya menyayngi kamu
begitupun kamu terhadap saya
hanya entah mengapa terkadang saya merasa sangat aneh
dan entah kamu

cepat kembali
masih banyak hal yang harus kamu jelaskan kepada saya
sedang saya mencari tau kebenarannya

sampai jumpa di waktu itu nanti

Jumat, 26 September 2014

septemberku yang dulu

ini september kedua sejak september pertama kala itu
entah bagaimana hingga detik ini aku masih dan akan selalu bersyukur dengan yang aku rasakan
setiap proses adalah belajar dan setiap belajar adalah proses
pada suatu awal aku hanya bisa menerka-nerka dan berandai-andai tinggi sekali namun seiring detik bergumam terkaan itu berubah menjadi nyata. nyata yang memang bisa ku sentuh meski hanya permukaanna saja.

jalanku masih panjang pun kamu
akankah kita ada di hilir yang sama ?
setiap sikap dan sifat yang menyelimuti kita memberikan cerita tersendiri untukku mungkin kamu juga

september hampir usai namun sepertinya aku tak pernah selesai
entah kamu juga atau tidak namun sepertinya tidak, ah entahlah

diary kecil ini sudah hampir terisi kamu kamu dan kamu
entah kapan aku akan merasa bosan dengan ini semua

september itu . . .
ketika aku masih bukan menjadi apa-apa
ketika kamu baru menjadi penerus generasi yang telah lalu

dan

september kini . . .
ketika aku telah banyak belajar dari berbagai persoalan
ketika kamu mulai sibuk, mempersiapkan detik akhir disini
perlahan aku tau bahwa
seseorang yang merasa paling kesakitan di awal akan menjadi yang paling kehilangan di akhir

bahkan aku belum mengucapkan maaf dan terimakasih
bahkan aku belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi
bahkan aku belum mendengarkan penjelasanmu
dan bahkan aku belum menjelaskan agar kamu tetap tinggal

september kini . . .
ketika kamu semakin dikenal
ketika kamu telah hampir memiliki segalanya
aku sering rindu saat-saat kamu menjadi sosok yang sederhana
melepas segala tahta luar biasa yang menempel di dirimu
maaf bila segalanya hanya bisa ku tahan
aku hanya takut kamu tak ingin mendengar

semoga Allah melindungi kamu

Senin, 15 September 2014

sebelumnya mohon maaf Allah bila aku terlihat mengeluh

aku lelah sangat lelah. aku lelah tidak mampu lagi menjadi diriku sendiri bahkan dihadapan orang-orang yang mengenalku dengan dalam
aku lelah berpura-pura dan menipu diriku sendiri
aku lelah untuk tidak menjadi apa yang seharusnya ku inginkan
terlalu banyak celoteh sana-sini tapi tidak satupun yang dapat aku terima dengan adanya diriku
tuntutan profesi ? terlalu berlebihan !

bahkan sangat melelahkan jika harus berpura-pura di hadapan kamu
saya tau saya tidak pernah meminta yang seperti ini hadir dalam saya
saya sayang diri saya sendiri
cukup sayang

Allah, maafkan kami
izinkanlah kami mencerna lebih dalam dan lebih rendah hati dari sebelumnya

Sabtu, 23 Agustus 2014

carut marut kehidupan duniawi agaknya sering membuat kita lupa bahwa kita sebetulnya memiliki dunia yang lain
hari berlalu sedemikian panjang namun tak jua ku temukan akar panjang berlapis apa yang sesungguhnya terjadi
mungkin kita harus lebih bersabar menanti ?

tentu saja dengan untaian doa dan usaha

aku tahu kita tak lelah kita hanya sedikit khawatir, khawatir apa yang kita peras sekian lama menguap

aku, kamu, kita, dan mereka
hanyalah bagian kecil bahkan sangat kecil mengenai juntang jeluntang kefanaan ini

bersyukur ...
Tuhan Maha Baik melingkupiku dengan kalian

belajar dan berbagi ...
sementara baru itu yang kutemukan dari maksud Nya

maaf dan terimakasih
terlontar perlahan selalu dan seterusnya

maaf bukan karena kesalahan
terimakasih bukan karena pujian
kalian tentu mengerti jika tidak maka segera


-dari yang senantiasa berusaha mencoba

Rabu, 20 Agustus 2014

kadang tak ada yang mengerti mengapa kita perlu begini perlu begitu dan segala racau meracau yang lain
kadang tiada pula yang paham mengapa sesosok manusia harus memiliki rasa yang seharusnya tidak ia rasakan
sebagian beranggapan "Tuhan tidak adil" sebagian yang lain justru mengamini dengan khusnul yakin frasa semacam ini
andai mereka tahu bahwa tidak ada yang tidak terencana oleh Nya
hidupku yang dulu, hidupku yang sekarang, dan hidupku yang akan datang
aku tak pernah tahu sebelumnya
yang aku tahu aku hanya menjalankan apa yang memang seharusnya aku jalankan
yang aku tahu apa yang aku rasakan memiliki suatu sistem rencana yang akan membawaku pada sesuatu hal yang lain
seperti hari ini yang begitu memilukan
tidak bermaksud menyalahkan siapapun, aku hanya bimbang mengapa sebuah pernyataan sederhana tak kunjung ada ?
. . .
terkadang manusia tidak membutuhkan penjelasan atau alasan apa yang telah terjadi namun manusia hanya butuh pengakuan. ya hanya dengan mengakui benar atau salah itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya, bukan ?

hari ini . . .
aku membutuhkan lebih kehati-hatian dalam bepergian
aku membutuhkan rasa rela dan ikhlas daripada hari-hari yang telah lalu
aku merindukan sesosok yang mampu mengakui walau hanya sederhana
aku ingin mereka tau apa yang aku lakukan bukan hanya sekedar "atas nama" kebaikan

kelak ketika aku pergi kemanapun itu
sampaikan pada ibu dan juga ayahku bahwa aku mencintai mereka lebih dari yang mereka tahu
katakan bahwa ketika aku terpaksa bernada tinggi pada mereka adalah sesuatu hal yang paling menyakitkan untukku
ceritakan bahwa setiap saat mereka lah alasanku untuk hidup, mereka alasan untuk aku tetap kuat melangkahkan kaki dan menegakkan kepala
dan ketika aku harus berkata dengan nada ataupun kata-kata yang keras bukan berarti aku sudah tidak kuat dengan mereka, aku hanya ingin mereka menjadi orang tua yang baik untukku maupun anak-anak nya yang lain agar Allah memberkahi mereka.

Ya Allah mungkin hamba bukan anak yang baik namun jadikanlah kedua orang tua hamba sebagai suri tauladan bagi yang lainnya, penegak kebenaran agamaMu, serta jalan yang teramat baik bagi anak-anaknya.