Kamis, 14 Agustus 2014

Ibu, Anakmu Hanya Jatuh Cinta

pagi yang cukup dingin berselimutkan embun penghias dedaunan yang menjadikannya terlihat segar juga pagi yang cukup disayangkan Dru untuk meninggalkan tempat tidur hanya demi menempuh jarak 16 km dari tempat tinggalnya. andai Dru tidak mengingat bahwa pergi kuliah adalah pesan terakhir dari neneknya tercinta tentu ia tidak akan beranjak dari kasurnya yang hangat.
Ibu Dru telah menyiapkan sarapan lezat bagi anak semata wayangnya itu namun waktu Dru yang tinggal sedikit untuk menempuh perjalanan 16 km agaknya cukup merepotkan.
"terimakasih, Bu. ibu saja yang sarapan aku pasti ikut kenyang. Love you, Bu", begitu pamit Dru sambil mencium pipi Ibu nya.
Kampus masih sepi, Dru yang berpikir bahwa ia akan terlambat sekitar 5 menit nyatanya ia datang 10 menit lebih awal entah kecepatan seperti apa yang membawanya seperti itu.
tau begini kuteruskan kemesraanku dengan kasur, umpat Dru dalam hati.
Dru merupakan sosok mahasiswi muda yang terkenal ceria, ramah, aktif, sabar dan baik hati saking baik hatinya sampai-sampai ia selalu tidak keberatan bila ada orang yang meminta bantuannya sekalipun orang tersebut menyakitinya berulang-ulang.

jam kedua perkuliahan rupanya diundur setengah jam, hal yang cukup menyebalkan bagi Dru dan kawan-kawannya.
"mau ke kantin Dru ?"
"tidak, kalian pergilah ke kantin mungkin aku akan ke zona baca"
sesampainya di zona baca Dru segera menuju tempat duduk favoritnya, tempat yang selalu ia dan dirinya banggakan, letaknya ada di depan jendela pojok kanan dari pintu masuk, dari situ Dru selalu bisa merasakan sejuknya udara ketika hujan, dan pemandangan-pemandangan dari taman kampus yang hijau. Namun dari itu semua hanya satu hal yang selalu membuatnya merasa nyaman untuk duduk berlama-lama di tempat itu.

tidak seperti hari-hari biasanya Dru lebih sering terlihat tidak ceria meskipun ia telah berusaha untuk melemparkan senyum kepada siapapun lawan bicaranya. Dru juga lebih tidak banyak bicara akhir-akhir ini, wajahnya yang sering terlihat agak pucat membuat kawan-kawannya menyangka bahwa ia sedang sakit namun Dru selalu menolak mentah-mentah hal itu.
"aku tak apa, tenang saja" katanya dengan mengulum senyum dan hal itulah yang selalu ia lontarkan ketika ada yang menanyakan keadaannya.
di rumah sosok Dru menjadi semakin tidak karuan. Ibu yang mencium gelagat aneh dari satu-satu nya orang yang dimiliki nya sekarang tentu merasa khawatir.
"Dru, Ibu tau kamu sangat sulit untuk diajak makan tapi lihat tubuhmu semakin kurus Dru"
Dru yang mengetahui Ibu nya khawatir segera mencomot piring lantas mengambil nasi dan lauk pauk yang tersedia. Dru makan dengan mulut yang penuh. tak berselang lama setelah Dru menghabiskan makanannya yang hanya sebanyak tiga sendok Ibu melihatnya berlari kecil menuju kamarnya.

hari ini hari terakhir ujian kuliah, dan lusa adalah hari wisuda bagi satu angkatan atas Dru. Dru meskipun ia masih belum terlihat baik dari biasanya tetap mengiyakan ketika Wita temannya meminta nya mengantar ke bagian keuangan untuk menebus biaya proposal pelaksanaan carnaval universitas satu bulan lalu.
setelah mengantar Wita, Dru berjalan sendirian menuju tempat favoritnya. disana ia tak dapat lagi menahan air mata nya.

"Dru tak apa Bu, Ibu tak perlu khawatir", begitu yang ia katakan ketika ibu selalu bertanya perihal keadaannya.
"Dru, untuk kesekian kali nya ibu meminta ceritakan pada Ibu nak apa yang mengganjal pikiranmu selama ini ?"
Dru masih bergeming sambil tetap mengulum senyum, meskipun terlihat di matanya bahwa kaca-kaca itu tak lama akan pecah.
"apa ada yang menyakiti kamu, Dru ?", tanya Ibu sambil membelai rambut Dru yang panjang
Dru menggeleng dan tetap tersenyum.

"Ibu, sedalam apa Ibu mengenal Dru ?" ujar Dru perlahan

"lebih dari kamu mengenali dirimu, nak"

"Ibu, setiap manusia punya akal, hati, dan pikiran bukan ?"

"tentu saja nak"

"untuk apa Bu ?"

"itu adalah karunia Tuhan yang tak ternilai harganya, akal adalah pembeda antara kita dan makhluk Tuhan yang lainnya pertanda bahwa kita adalah makhluk terbaik apabila kita bisa menggunakannya yakni dengan mengetahui mana yang baik dan buruk"

"lalu hati ?"

"ia adalah tempatmu untuk merasakan, dari situ kamu tau apa yang terjadi padamu dan apa yang harus kamu lakukan"

"kalau pikiran ?"

"ia adalah penerjemah dari apa yang kamu rasakan, sehingga kamu tau suatu hal layak untuk dilakukan ?"

"bu . . ."

"ya Dru ?"
"Ibu ingat aku pernah bercerita tentang zona baca dan tempat favoritku di kampus ?"
"ya, tempatmu melihat pohon ek serta bunga-bunga berwarna yang di tanam di taman kampusmu ?"
"lalu ?"
"tempatmu menikmati udara sejuk dan percikan air ketika hujan ?"
"tempat itu... tempat itu... tempatku menikmati Hans, bu..."
"Hans ?"
"besok ia di wisuda"
"lalu ?"
"aku belum mengenalnya, aku belum menjabat erat tangannya, bahkan aku belum memberitahu nya apapun"
"memberitahu apa, Dru ?"
"Aku jatuh cinta padanya sejak lama, Bu"

***END***

Minggu, 10 Agustus 2014

waktu bergulir tanpa terasa, ribuan asa dan cita juga telah terlaksana bagi umat manusia. lantas, adakah kita bersyukur di dalamnya ? seharusnya, bahkan itu memang sebuah keharusan yang mutlak.

pahit

manis

segala yang kita rasakan adalah suatu yang memiliki alasan bukan ?
lalu "kapan aku tahu alasan itu ?"
bukankah kita tahu Allah memberikan dan segala sesuatu dengan sangat indah lebih dari yang kita pikirkan

dan apakah salah jika aku pun turut mensyukuri ini semua ? tidak sama sekali tidak

aku hanya hamba yang memiliki daya sesuai dengan yang dititahkan Tuhan nya

aku hanya seonggok daging bernama yang pasti lemah tanpa kuasa Nya

Allah . . .
Aku milik Nya, seutuh hidup dan mati

Allah terimakasih tanpa henti kulantunkan meski dengan sederhana apakah Kau mau menerimanya ?
Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu

Senin, 14 Juli 2014

dandelion mulai menemukan lagi serpihan nya yang telah lama hilang

dandelion mulai menyapa kembali tempat yang sempat ia tinggal

angin yang dulu membawanya pergi perlahan meninggalkannya sendiri

dandelion tak takut lagi ia tidak akan merasa sendiri lagi, karena dunia nya adalah hanya tentangnya, tentang ceritanya dan segala yang ia selalu bayangkan

angin tak akan lagi membawanya lari. ini bukan musim badai bukan pula musim yang akan memaksanya beranjak lagi. ini musim tenang dimana jutaan bayaran yang ia nantikan dapat dengan erat ia genggam.

segala kuat dan segala tekad perlahan memulihkan keadaannya

segala harap dan derap langkah yang lama dirindukan perlahan terjumpa

ini bukan hanya sekedar mimpi namun memang suatu perjalanan berujung manis yang telah dinanti

terimakasih Tuhan, Engkau sungguh Maha Penyayang yang paling Besar :)

Minggu, 13 Juli 2014

PURWOKERTO

hujan di senja hari Minggu memang tidak sangat deras namun sangat cukup untuk membasahi tubuh yang kurus kering ini. hujan sore ini juga sangat cukup mengingatkanku pada kota kelahiranku, kota kesayangan yang selalu punya sudut cerita untukku, sangat cukup untuk membuat rindu sesosok manusia kecil sepertiku.

here it is . . .
Purwokerto
sang kota ksatria
bagi yang belum tahu Purwokerto terletak di Provinsi Jawa Tengah, sekitar 8-12jam dari kota Surabaya apabila ditempuh dengan kereta api dan bisa 14 jam dengan perjalanan darat menggunakan mobil.


dahulu memang belum banyak yang mengetahui kota yang memiliki hawa sejuk ini, dulu airnya sangat jernih sawahnya sangat banyak cuacanya juga sangat menyenangkan meskipun sering hujan disana sini.
di belakang rumah tempatku tinggal terdapat sumur yang sungguh jernih airnya tak jarang kami bisa mengambilnya secara langsung dengan menggunakan emeber atau ciduk tanpa harus menimbanya.

ke arah utara dari tempatku tinggal pula terdapat pemandangan yang sungguh indah gunung selamet terbentang luas di kaki langit. jika cuaca sedang sangat baik kita bisa melihat kegagahan dan keelokan gunung itu secara jernih.

lagi hal yang senantiasa membuatku rindu dengan kota kecil sederhana yang kini mulai banyak penduduknya.
stasiun kereta api Purwokerto

http://kangridwan.files.wordpress.com/2011/05/poto572.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgq54_OfaB3FrIDzBTLdTbmCqs3NqQcD9QYp4s99AfZLnbP5zEhf5REbAuR-dpdi6JewS1sfx_ebswppeyBIE9LWvZUTJQM6D40xJ-R60pyNOor1SGBt4j1JnkdFfcbIqSdYZQOROc31Y7S/s1600/dieng24.jpg

disanalah setiap tahun aku sampai pertama kali, disanalah selalu ku dengar bel bel pemberitahuan lalu lalang terdengar, dari kecil aku sudah terbiasa mondar-mondir surabaya-purwokerto dengan kereta dan dentingan bel di stasiun tentu bukanlah hal asing. di setiap sudutnya ada makna yang kalau saja diamati dan dirasakan tidak akan ditemnukan pada tempat lain.

Purwokerto
kota sederhana yang selalu membuatku rindu. aku tahu aku bukanlah satu-satunya pengagum dari kota kecil ini, aku juga bukanlah pemilik yang secara utuh dapat mendeklarasikan diri memiliki nya, aku hanya satu dari ribuan orang yang menyayangi dan menjadi satu bagian kecil di dalamnya.

kini ia telah dewasa semakin banyak orang yang mengetahui keberadaannya. satu sisi aku cukup senang karena aku tidak perlu menjelaskan secara detail dimana letak dan bagaimana bentuk dari kota yang sering menjadi transit ini namun di sisi lain aku kurang suka dengan keberadaannya yang mulai ramai dan banyak yang mulai mendeklarasikan menjadi penduduk tetap kota ini, kebanyakan diantara mereka adalah orang dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan sekitarnya. bukan apa-apa emang tapi aku hanya takut aku tidak lagi memiliki tempat dan bisa menikmati sepertu dulu jauh sebelum kota ini dihuni oleh orang-orang kota.

"tetaplah indah seperti sedia kala, tetaplah rendah laikya seorang putri raja yang baik hatinya. aku akan datang lagi dengan segala hal baru, aku akan tinggal lalu kita bertukar cerita. jagalah yang tersayang dan jadilah yang selalu terkenang"

Kamis, 10 Juli 2014

everybody have their own way, have their own life, have their own color
dan apakah setiap dari kita punya hak untuk mengaduk-aduk atau bahkan menghancurkan warna-warna itu ? Tentu tidak.

setiap orang punya cara nya sendiri untuk melihat dan menikmati dunianya sekalipun ia tidak memiliki indera yang sama selayaknya makhluk normal lainnya.

setiap orang juga punya kekuatannya sendiri untuk menghadapi dan membuat apapun yang membuat dirinya merasa aman, merasa nyaman, dan merasa bahwa hidupnya akan baik-baik saja

you may say "ugghhh" about them but look at the mirror

are you more perfect than someone you blame ???

kita telah memiliki kartu hidup dan mati masing-masing bergantung bagaimana kita menyimpan dan mempergunakannya, apakah itu tepat atau malah sebaliknya ?

sebagai umat yang sungguh terhormat sudah selayaknya kita saling menghargai apapun itu namun menghargai bukan berarti membebaskan. maka gunakanlah rasa sayang yang dihadiahkan Tuhan kepadamu untuk membantu menghidupkan kembali kebaikan-kebaikan pada saudaramu.