Ibu Dru telah menyiapkan sarapan lezat bagi anak semata wayangnya itu namun waktu Dru yang tinggal sedikit untuk menempuh perjalanan 16 km agaknya cukup merepotkan.
"terimakasih, Bu. ibu saja yang sarapan aku pasti ikut kenyang. Love you, Bu", begitu pamit Dru sambil mencium pipi Ibu nya.
Kampus masih sepi, Dru yang berpikir bahwa ia akan terlambat sekitar 5 menit nyatanya ia datang 10 menit lebih awal entah kecepatan seperti apa yang membawanya seperti itu.
tau begini kuteruskan kemesraanku dengan kasur, umpat Dru dalam hati.
Dru merupakan sosok mahasiswi muda yang terkenal ceria, ramah, aktif, sabar dan baik hati saking baik hatinya sampai-sampai ia selalu tidak keberatan bila ada orang yang meminta bantuannya sekalipun orang tersebut menyakitinya berulang-ulang.
jam kedua perkuliahan rupanya diundur setengah jam, hal yang cukup menyebalkan bagi Dru dan kawan-kawannya.
"mau ke kantin Dru ?"
"tidak, kalian pergilah ke kantin mungkin aku akan ke zona baca"
sesampainya di zona baca Dru segera menuju tempat duduk favoritnya, tempat yang selalu ia dan dirinya banggakan, letaknya ada di depan jendela pojok kanan dari pintu masuk, dari situ Dru selalu bisa merasakan sejuknya udara ketika hujan, dan pemandangan-pemandangan dari taman kampus yang hijau. Namun dari itu semua hanya satu hal yang selalu membuatnya merasa nyaman untuk duduk berlama-lama di tempat itu.
tidak seperti hari-hari biasanya Dru lebih sering terlihat tidak ceria meskipun ia telah berusaha untuk melemparkan senyum kepada siapapun lawan bicaranya. Dru juga lebih tidak banyak bicara akhir-akhir ini, wajahnya yang sering terlihat agak pucat membuat kawan-kawannya menyangka bahwa ia sedang sakit namun Dru selalu menolak mentah-mentah hal itu.
"aku tak apa, tenang saja" katanya dengan mengulum senyum dan hal itulah yang selalu ia lontarkan ketika ada yang menanyakan keadaannya.
di rumah sosok Dru menjadi semakin tidak karuan. Ibu yang mencium gelagat aneh dari satu-satu nya orang yang dimiliki nya sekarang tentu merasa khawatir.
"Dru, Ibu tau kamu sangat sulit untuk diajak makan tapi lihat tubuhmu semakin kurus Dru"
Dru yang mengetahui Ibu nya khawatir segera mencomot piring lantas mengambil nasi dan lauk pauk yang tersedia. Dru makan dengan mulut yang penuh. tak berselang lama setelah Dru menghabiskan makanannya yang hanya sebanyak tiga sendok Ibu melihatnya berlari kecil menuju kamarnya.
hari ini hari terakhir ujian kuliah, dan lusa adalah hari wisuda bagi satu angkatan atas Dru. Dru meskipun ia masih belum terlihat baik dari biasanya tetap mengiyakan ketika Wita temannya meminta nya mengantar ke bagian keuangan untuk menebus biaya proposal pelaksanaan carnaval universitas satu bulan lalu.
setelah mengantar Wita, Dru berjalan sendirian menuju tempat favoritnya. disana ia tak dapat lagi menahan air mata nya.
"Dru tak apa Bu, Ibu tak perlu khawatir", begitu yang ia katakan ketika ibu selalu bertanya perihal keadaannya.
"Dru, untuk kesekian kali nya ibu meminta ceritakan pada Ibu nak apa yang mengganjal pikiranmu selama ini ?"
Dru masih bergeming sambil tetap mengulum senyum, meskipun terlihat di matanya bahwa kaca-kaca itu tak lama akan pecah.
"apa ada yang menyakiti kamu, Dru ?", tanya Ibu sambil membelai rambut Dru yang panjang
Dru menggeleng dan tetap tersenyum.
"Ibu, sedalam apa Ibu mengenal Dru ?" ujar Dru perlahan
"lebih dari kamu mengenali dirimu, nak"
"Ibu, setiap manusia punya akal, hati, dan pikiran bukan ?"
"tentu saja nak"
"untuk apa Bu ?"
"itu adalah karunia Tuhan yang tak ternilai harganya, akal adalah pembeda antara kita dan makhluk Tuhan yang lainnya pertanda bahwa kita adalah makhluk terbaik apabila kita bisa menggunakannya yakni dengan mengetahui mana yang baik dan buruk"
"lalu hati ?"
"ia adalah tempatmu untuk merasakan, dari situ kamu tau apa yang terjadi padamu dan apa yang harus kamu lakukan"
"kalau pikiran ?"
"ia adalah penerjemah dari apa yang kamu rasakan, sehingga kamu tau suatu hal layak untuk dilakukan ?"
"bu . . ."
"ya Dru ?"
"Ibu ingat aku pernah bercerita tentang zona baca dan tempat favoritku di kampus ?"
"ya, tempatmu melihat pohon ek serta bunga-bunga berwarna yang di tanam di taman kampusmu ?"
"lalu ?"
"tempatmu menikmati udara sejuk dan percikan air ketika hujan ?"
"tempat itu... tempat itu... tempatku menikmati Hans, bu..."
"Hans ?"
"besok ia di wisuda"
"lalu ?"
"aku belum mengenalnya, aku belum menjabat erat tangannya, bahkan aku belum memberitahu nya apapun"
"memberitahu apa, Dru ?"
"Aku jatuh cinta padanya sejak lama, Bu"
***END***

