-once upon a love-
teringat akan pertemuan kita dan apa yang telah kita lakukan. apakah semua memang benar memiliki sebuah alasan ?
pun ketika kita dihadapkan pada suatu lorong yang sama, waktu yang sama, dan peristiwa-peristiwa yang memaksa kita melihat dengan sudut yang sama pula.
bisakah kau memberitahuku apa alasan dari semua itu ?
hingga suatu masa membawaku pada perasaan yang lain terhadapmu, meski belum bisa terjelaskan namun seseorang pernah memberitahuku bahwa apa yang aku rasakan inilah yang disebut cinta.ah, aku tidak percaya sama sekali aku hanya mengagumimu, pikirku.
hingga waktu bergulir tanpa mempedulikan angin yang dengan keras menyentuh permukaan laut dengan tenangnya, dingin.
detik demi detik berlalu, sampai aku menemukan hatiku terasa sakit ketika melihatmu. ada apa ini ? mengapa begini ? berjuta bongkahan pertanyaan menyesaki dada dan pikiranku, aku tidak dapat menggambarkan, aku hanya dapat merasakan.
dan aku mulai mencari tahu atas apa yang sedang terjadi padaku, diriku, utamanya hatiku.
cemburu, satu kata yang cukup rumit untuk diucapkan. benarkah aku cemburu atau hanya imajiku saja ?
jangan tertawa terlalu keras dengan yang lain dihadapanku, itu menyakitiku. jerit seseorang dari dalam.
tertawalah bersamaku, katanya.
akhirnya aku temukan bahwa memang ini yang dinamakan cemburu, ketika seseorang yang kau lihat tertawa bersama yang lain dan kamu merasakan seperti ada belati yang menggores hatimu, seperti gas karbon yang menyesakki ruang tempatmu bertemu oksigen, seperti bianglala yang berputar tanpa mempedulikan kecepatan, dan seperti itulah yang pernah aku rasakan.
orang bilang cemburu itu tanda sayang, tanda cinta. lagi ? benarkah aku menyayanginya ?
tanpa terasa rupanya waktuku terkuras habis tentangmu, tentang kita yang baru hanya menjadi khayalan dalam setiap helaan, dalam setiap kepingan mimpi-mimpi kecil, dalam coretan pena yang melukis indah dalam kertas bergaris.
tiba-tiba aku memikirkanmu, memikirkan kita, bahkan apa yang akan terjadi pada hidup kita di masa depan.
plakk! aku menampar pipiku, mencoba menyadari kesalahan yang baru saja diperbuat oleh angan bersebut khayal.
namun, tanpa sadar aku melakukannya lagi cukup parah.
hingga seseorang bertanya padaku atas apa yang aku rasakan, aku terdiam, menerawang, otakku tertuju pada kita, kita yang sering aku khayalkan, kita yang tak jarang aku pikirkan.
dan hap! rupanya tanpa sadar aku sempat terdiam buru-buru ku jawab pertanyaan orang itu dengan sekenanya, dia percaya.
apa yang baru saja terjadi ? kenapa aku harus berpikir untuk menjawabnya ?
benarkah ini cinta ? sesuatu yang sering dipamerkan oleh keadaan tempatku berkawan
benarkah ini cinta ? hal yang menurut milyaran orang begitu indah
"jika memang ini cinta aku takkan mengingkarinya"
namun, apakah itu alasan atas apa yang telah terjadi pada kita ?
tidakkah kau ingin bertanya ? tidakkah kau ingin mencari tahu ?
jelaskan padaku jika suatu waktu kau telah menemukan alasan beserta jawabannya.
